Bandar Lampung (29/6). Anggota Divisi Desain Grafis LINES DPP LDII sekaligus Anggota Biro Komunikasi, Informasi, dan Media (KIM) DPW LDII Lampung, Fathkan Tri Pambudi, mengatakan desain grafis yang baik harus mampu memudahkan pembaca memahami informasi, bukan sekadar menampilkan visual yang menarik. Hal itu disampaikannya saat memberikan materi desain grafis pada Pelatihan Jurnalistik Mahir Dasar (PJMD) yang diikuti 90 peserta di Aula Kantor DPW LDII Provinsi Lampung, 27–28 Juni 2026.
“Desain yang baik bukan sekadar estetik. Yang paling penting adalah informasi mudah dibaca, memiliki struktur yang jelas, dan pesan yang ingin disampaikan dapat dipahami audiens,” ujar Fathkan.
Ia mengingatkan peserta agar tidak terjebak mengejar tampilan visual semata tanpa memperhatikan fungsi komunikasi. “Kalau desainnya indah tetapi orang kesulitan membaca isi pesannya, berarti tujuan desain belum tercapai. Karena itu, readability harus menjadi perhatian utama,” katanya.
Dalam pemaparannya, Fathkan menjelaskan sejumlah prinsip dasar yang perlu diperhatikan saat membuat konten media sosial. Menurutnya, setiap desain harus memiliki ukuran yang sesuai dengan platform yang digunakan.
“Gunakan ukuran yang tepat, misalnya 1080 × 1350 piksel untuk feed carousel dan 1080 × 1920 piksel untuk story maupun cover reels. Dengan ukuran yang sesuai, tampilan konten akan lebih optimal saat dipublikasikan,” jelasnya.
Selain itu, ia mengajak peserta memahami pentingnya kontras warna, tipografi, dan hierarki visual dalam sebuah desain. “Batasi penggunaan font maksimal tiga jenis agar desain tetap konsisten. Pastikan warna teks memiliki kontras yang cukup dengan latar belakang, kemudian susun informasi berdasarkan prioritas, mulai dari judul, ilustrasi, hingga deskripsi pendukung,” ujarnya.
Fathkan juga menjelaskan fungsi white space atau ruang kosong dalam desain. “Jangan memenuhi seluruh bidang dengan teks dan gambar. Berikan ruang kosong agar desain terasa lebih rapi, nyaman dilihat, dan informasi utama lebih mudah ditangkap pembaca,” katanya.
Pada sesi praktik, peserta diperkenalkan dengan alur pembuatan konten menggunakan Canva. Menurutnya, aplikasi tersebut dapat membantu tim media daerah menghasilkan desain secara lebih cepat dan efisien.
“Canva sangat membantu untuk kebutuhan publikasi harian. Pelajari safe area, manfaatkan template yang sudah ada, lalu kembangkan menjadi desain sesuai kebutuhan organisasi,” tuturnya.
Ia juga membagikan metode ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi) sebagai langkah awal belajar desain grafis. “Amati desain yang sudah baik, tiru prinsip-prinsipnya, kemudian modifikasi menjadi karya yang memiliki identitas sendiri. Dengan cara itu, kemampuan desain akan berkembang lebih cepat tanpa kehilangan kreativitas,” ujarnya.
Menutup sesi materi, Fathkan mengajak peserta untuk terus mengasah kemampuan desain melalui praktik dan evaluasi. “Semakin sering membuat desain, semakin terlatih pula kepekaan kita dalam menyusun informasi secara visual. Desain yang sederhana, mudah dipahami, dan konsisten justru akan lebih efektif menyampaikan pesan kepada masyarakat,” tutupnya.


















