Bandar Lampung (29/6). Ketua Divisi Foto, Perlengkapan, dan Studio LINES DPP LDII, Dimas Maulana Ichsan, mengatakan foto dan video jurnalistik tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap berita, tetapi harus mampu menceritakan sebuah peristiwa secara utuh kepada masyarakat. Hal itu disampaikannya saat memberikan materi fotografi dan videografi kepada 90 peserta Pelatihan Jurnalistik Mahir Dasar (PJMD) DPW LDII Provinsi Lampung yang bekerja sama dengan LDII News Network (LINES) DPP LDII pada 27–28 Juni 2026 di Aula Kantor DPW LDII Provinsi Lampung.
“Foto jurnalistik bukan sekadar gambar yang menarik. Setiap foto harus memiliki informasi, mampu menjelaskan sebuah peristiwa, dan mendukung isi berita yang disampaikan kepada pembaca,” ujar Dimas.
Ia menjelaskan, seorang jurnalis visual dituntut memiliki kepekaan dalam menentukan momen yang tepat sebelum menekan tombol kamera. “Jangan terburu-buru memotret. Amati situasi terlebih dahulu, cari sudut pengambilan gambar yang tepat, kemudian pastikan komposisi, pencahayaan, dan fokus sudah sesuai. Dari situlah lahir foto yang mampu bercerita,” katanya.
Menurut Dimas, prinsip yang sama juga berlaku dalam produksi video jurnalistik. Pengambilan gambar harus dilakukan secara runtut agar alur sebuah peristiwa mudah dipahami oleh penonton.
“Dalam videografi, jangan hanya mengambil satu jenis gambar. Ambil gambar lebar (wide shot), sedang (medium shot), dan dekat (close-up) agar proses penyuntingan menjadi lebih mudah dan cerita yang dibangun terasa utuh,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan peserta untuk memperhatikan kualitas hasil dokumentasi sebelum dipublikasikan. “Pilih foto dan video yang memiliki nilai jurnalistik, tajam, serta benar-benar mewakili peristiwa. Hindari dokumentasi yang buram, goyang, atau mengandung unsur yang dapat mengalihkan perhatian pembaca dari informasi utama,” ujarnya.
Menurutnya, dokumentasi yang baik akan mendukung penyebarluasan informasi melalui berbagai platform media. “Foto dan video yang berkualitas dapat digunakan untuk melengkapi berita di website, media sosial, hingga majalah organisasi. Karena itu, setiap jurnalis harus menghasilkan karya yang informatif sekaligus enak dilihat,” tuturnya.
Di akhir sesi, Dimas mengajak seluruh peserta untuk terus mengasah kemampuan fotografi dan videografi melalui praktik yang berkelanjutan. “Keahlian menghasilkan foto dan video jurnalistik tidak diperoleh dalam satu kali pelatihan. Semakin sering turun ke lapangan, mengamati peristiwa, dan mengevaluasi hasil dokumentasi, semakin terasah pula insting kita dalam menghasilkan karya visual yang informatif dan bernilai jurnalistik,” tutupnya.


















