Bandar Lampung (29/6). Ketua Divisi Media Sosial LINES DPP LDII, Faza Ruziqyani Firdausa, mengatakan pengelolaan media sosial memerlukan strategi yang terencana, mulai dari penyusunan ide, proses produksi, hingga evaluasi hasil publikasi. Hal itu disampaikannya saat memberikan materi Manajemen Media Sosial kepada 90 peserta Pelatihan Jurnalistik Mahir Dasar (PJMD) yang diselenggarakan DPW LDII Provinsi Lampung bekerja sama dengan LDII News Network (LINES) DPP LDII pada 27–28 Juni 2026 di Aula Kantor DPW LDII Provinsi Lampung.
“Media sosial bukan sekadar tempat mengunggah foto atau video. Setiap konten harus memiliki tujuan, target audiens, dan strategi penyampaian yang jelas agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik,” ujar Faza.
Menurutnya, pengelolaan media sosial dimulai dari tahap praproduksi. Pada tahap tersebut, tim media perlu melakukan musyawarah, menyusun content calendar, menentukan tema, serta mengumpulkan referensi sebelum proses produksi dilakukan.
“Jangan langsung membuat konten. Biasakan menyusun ide terlebih dahulu, menentukan jadwal publikasi, dan mengumpulkan referensi. Dengan begitu, produksi konten menjadi lebih terarah dan konsisten,” katanya.
Faza menjelaskan, setelah proses perencanaan selesai, tahapan berikutnya adalah produksi. Ia mengajak peserta memahami alur kerja yang sistematis, mulai dari menentukan platform yang akan digunakan, menyusun content writing atau script writing, melakukan proses desain, pengambilan gambar, penyuntingan, hingga preview sebelum konten dipublikasikan.
“Konten yang baik selalu melalui proses pengecekan sebelum diunggah. Setelah dipastikan sesuai, baru dipublikasikan dan dilanjutkan dengan membagikan ke media lain serta merespons komentar dari audiens,” ujarnya.
Selain membahas alur produksi, Faza juga memberikan materi dasar mengenai pengambilan video menggunakan telepon genggam. Ia menekankan enam hal yang perlu diperhatikan sebelum menekan tombol rekam.
“Pastikan komposisi gambar sudah tepat, pergerakan kamera tidak berlebihan, video stabil, pencahayaan cukup, resolusi menggunakan kualitas terbaik, serta audio terdengar jelas. Hal-hal sederhana ini sangat menentukan kualitas video yang dihasilkan,” jelasnya.
Ia menambahkan, kualitas konten tidak hanya bergantung pada visual, tetapi juga pada cara menyampaikan cerita. “Konten harus memiliki alur yang mudah dipahami. Karena itu, kemampuan storytelling, content writing, dan news rewrite menjadi bekal penting agar informasi yang disampaikan lebih menarik sekaligus tetap akurat,” katanya.
Pada sesi akhir, Faza memperkenalkan pentingnya melakukan evaluasi terhadap setiap konten yang telah dipublikasikan melalui fitur analisis media sosial. “Jangan berhenti setelah mengunggah konten. Perhatikan data reach, views, engagement, pertumbuhan pengikut, hingga waktu terbaik untuk mengunggah konten (prime time). Dari data itulah kita mengetahui konten mana yang disukai audiens dan apa yang perlu diperbaiki,” ujarnya.
Menurut Faza, proses evaluasi menjadi bagian penting dalam membangun media sosial yang berkembang secara berkelanjutan. “Media sosial yang dikelola dengan baik selalu melalui tiga tahapan, yaitu praproduksi, produksi, dan pascaproduksi. Ketiganya saling berkaitan. Jika dilakukan secara disiplin dan konsisten, konten yang dihasilkan akan lebih berkualitas, tepat sasaran, dan memberi manfaat bagi masyarakat,” tutupnya.


















