Jakarta (9/6). Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh setiap 5 Juni, DPP LDII menegaskan bahwa implementasi nilai mujhid muzhid dan mandiri menjadi fondasi utama dalam menghadapi krisis sampah nasional. Hal itu diungkapkan oleh Anggota Departemen Penelitian, Pengembangan, IPTEK, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup (LISDAL) DPP LDII, Siham Afatta, pada Jumat (5/6). Menurutnya, akar masalah sampah saat ini bukan hanya pada sistem hilir, melainkan pada pola konsumsi harian masyarakat.
Siham menjelaskan bahwa persoalan sampah tidak hanya terletak pada sistem pengelolaan, tetapi juga pada pola konsumsi masyarakat yang menghasilkan timbulan sampah dalam jumlah besar setiap harinya. Dalam kaitan ini, karakter mujhid muzhid dalam 29 Karakter Luhur mengajarkan kesungguhan sekaligus hidup hemat.
Ia menambahkan, dalam konteks lingkungan, hemat berarti mengurangi penggunaan barang sekali pakai, menghindari pemborosan, memilih produk isi ulang, serta mengendalikan syahwat konsumtif. Karakter ini harus berjalan beriringan dengan nilai kemandirian, di mana masyarakat tidak bisa sepenuhnya bersandar pada pemerintah atau petugas kebersihan, melainkan harus mengambil peran aktif mulai dari level rumah tangga melalui pemilahan sampah organik dan anorganik sejak dari sumbernya.
Senada dengan hal tersebut, Ketua DPP LDII yang juga pakar epidemiologi dan lingkungan, Dicky Budiman, memaparkan bahwa persoalan sampah di Indonesia telah berkembang menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat dan ketahanan bangsa. Berdasarkan data nasional, masyarakat Indonesia menghasilkan lebih dari 50 juta ton sampah per tahun yang sebagian besar menumpuk di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), mencemari laut, atau dibakar secara terbuka.
Dicky menegaskan, dalam konsep National Action Plan for Health Security (NAPHS), fokus utamanya adalah bagaimana menciptakan manusia yang sehat. Saat ini, buruknya tata kelola sampah menjadi faktor utama yang mengganggu derajat kesehatan manusia di Indonesia. Oleh karena itu, strategi paling efektif yang dianjurkan dunia saat ini adalah menekan volume sampah langsung dari sumbernya, seperti rumah tangga, sekolah, hingga tempat ibadah. Tiga masalah utama yang harus dirombak adalah pola konsumsi berlebih, budaya sekali pakai, dan minimnya tanggung jawab terhadap limbah pribadi.
Lebih lanjut, Dicky menguraikan bahwa implementasi 29 Karakter Luhur dapat diwujudkan melalui aksi kolektif yang mengedepankan karakter rukun dan kompak. Nilai-nilai ini diaktualisasikan dengan membangun gerakan sosial bersama seperti sedekah sampah plastik atau kerja bakti lingkungan tanpa sekat ego sektoral. Di sisi lain, nilai amanah dan jujur juga mendasari penumbuhan budaya tanggung jawab lingkungan, misalnya dengan tidak membuang sampah sembarangan serta tidak melakukan pembakaran sampah secara terbuka yang memicu polusi udara.
Dari perspektif medis, Dicky menilai bahwa pengelolaan sampah yang disiplin akan langsung menurunkan risiko penyakit berbasis lingkungan seperti leptospirosis, diare, demam berdarah (DBD), hingga infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Ia mengingatkan bahwa lingkungan yang bersih ini bukan warisan dari leluhur, melainkan pinjaman dari generasi yang akan datang. Oleh karena itu, mengelola sampah dengan bijak menjadi bagian dari tanggung jawab moral, sosial, dan spiritual bersama.
Sementara itu, menanggapi arahan dari pengurus pusat, Ketua DPW LDII Provinsi Lampung, Aditya, menyatakan kesiapan jajarannya di tingkat daerah untuk menerjemahkan nilai-nilai strategis tersebut ke dalam gerakan lokal yang masif di seluruh kabupaten dan kota. Menurutnya, persoalan sampah di Provinsi Lampung, baik di wilayah perkotaan maupun di kawasan pesisir, memerlukan tindakan nyata yang dimulai dari lingkup terkecil.
Aditya menjelaskan bahwa DPW LDII Lampung terus mendorong warga, mulai dari tingkat keluarga hingga majelis taklim, untuk disiplin memilah sampah dan menerapkan gaya hidup mujhid muzhid. Ia menambahkan, modal sosial LDII yang kuat di tingkat akar rumput menjadi kunci keberhasilan program lingkungan ini. Melalui gerakan kerja bakti rutin, program kampung bebas sampah, hingga pengembangan bank sampah berbasis komunitas, LDII Lampung berkomitmen penuh mendukung program pemerintah daerah demi menciptakan lingkungan yang bersih dan lestari.
















