Bandar Lampung (26/9). Dewan Pimpinan Wilayah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPW LDII) Provinsi Lampung menggelar penyampaian hasil Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) III LDII tahun 2025. Acara ini dilaksanakan secara daring pada Jum’at, (26/9), melalui studio mini di masing-masing daerah.
Kegiatan ini membahas hasil keputusan Rakornas III, meliputi Pedoman Organisasi (PO), Program Unggulan Prioritas (PUP), serta program bidang Pengabdian Masyarakat (Penamas).
Dalam arahannya, Dewan Penasihat DPW LDII Lampung, KH. Narso, menekankan bahwa penyampaian hasil Rakornas merupakan tindak lanjut dari pengarahan DPP kepada DPW yang kemudian diteruskan kepada seluruh DPD LDII se-Provinsi Lampung. Ia mengingatkan agar seluruh peserta mengikuti kegiatan ini dengan niat ibadah kepada Allah dan menyimak materi dengan sungguh-sungguh, sehingga dapat diimplementasikan di daerah masing-masing. “Harapan kami, hasil Rakornas ini bisa benar-benar dipedomani bersama,” ujarnya.
Ketua DPW LDII Lampung, Muhammad Aditya, memaparkan tentang pentingnya pencegahan dan percepatan penurunan stunting di Indonesia, termasuk di Provinsi Lampung. Berdasarkan data nasional, prevalensi stunting sudah turun di bawah 20 persen pada 2024, namun masih ada tantangan besar untuk mencapai target 14,2 persen pada 2029 dan jangka panjang 5 persen pada 2045.
Ia menjelaskan bahwa stunting tidak hanya soal tinggi badan anak yang pendek (cebol), tetapi juga terkait masalah wasting (gizi buruk), underweight (berat badan rendah), serta overweight (kegemukan). Menurutnya, jika masalah ini tidak ditangani serius, Indonesia bisa kehilangan momentum bonus demografi, karena kualitas generasi mudanya terancam.
“Di Lampung, upaya pencegahan stunting harus dilakukan lebih intensif. LDII melalui DPD se-Lampung ikut serta mendukung program pemerintah Cek Kesehatan Gratis (CKG). Program ini sangat penting untuk deteksi dini kesehatan dan gizi anak. Kami berharap kolaborasi ini semakin memperkuat langkah percepatan penurunan stunting di daerah. Untuk itu, kami mendorong DPD LDII agar menjalin kerjasama yang baik dengan Dinas Kesehatan di daerah masing-masing, sehingga program ini dapat berjalan optimal,” ujar Muhammad Aditya.
Sementara itu, Erwan menegaskan bahwa program dan kegiatan pengabdian masyarakat LDII sejalan dengan program pemerintah Asta Cita, yang salah satunya fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dan ketahanan nasional. Ia menjelaskan, LDII juga memiliki 8 program pengembangan untuk mendukung pembangunan bangsa, mencakup wawasan kebangsaan, keagamaan dan dakwah, ekonomi, pendidikan, kesehatan alami, pangan dan lingkungan hidup, teknologi digital, serta energi baru terbarukan.
“Dalam Rakornas III ini, LDII mengambil dua fokus utama, yaitu memperkuat sistem pertahanan dan keamanan nasional serta memperkuat sumber daya manusia. Khusus di bidang ketahanan pangan, LDII berkomitmen mengembangkan sorgum sebagai tanaman alternatif strategis. Pengembangan sorgum dinilai mampu mendukung kemandirian pangan sekaligus menjadi kontribusi nyata LDII dalam membantu pemerintah mengantisipasi tantangan krisis pangan global,” ujar Erwan.
Selain itu, Eko Dedi Gunawan membahas strategi implementasi kebijakan pengembangan kapasitas guru. Ia mengatakan guru harus mampu benar-benar mengajar dengan baik sesuai dengan arahan pemerintah, sehingga dapat menghasilkan kualitas pendidikan yang sehat dan berkualitas. Menurutnya, Indonesia saat ini menghadapi kekurangan tenaga kerja dengan keahlian tertentu, sehingga peningkatan kapasitas guru dan tenaga pendidik menjadi kebutuhan mendesak.

“Apalagi sekarang ada kebijakan baru terkait guru yang dapat meningkatkan kapasitas pendidik. Ditambah lagi dengan penerapan 7 kebiasaan anak Indonesia sehat, kami berharap para siswa bisa belajar secara mindful, meaningful, dan joyful, sehingga proses pendidikan bukan hanya mencetak kecerdasan intelektual, tetapi juga karakter yang kuat,” ujar Eko Dedi Gunawan.
Sementara itu, Heri Sensustadi menjelaskan pedoman pembinaan mekanisme dan petunjuk pelaksanaan organisasi, yang diharapkan dapat memperkuat tata kelola organisasi LDII hingga tingkat daerah dan kecamatan. Menurutnya, DPD, PC, dan PAC diharapkan dapat mencontoh tata kelola DPW dan DPP. “Pada hakekatnya, petunjuk dan perintah (dawuh) pelaksanaan organisasi itu tidak berat, asalkan diniati sebagai amal sholih,” jelasnya. Ia juga menekankan pentingnya setiap tingkatan organisasi LDII untuk aktif beraudiensi dengan mitra kerja sesuai levelnya, agar sinergi program dapat berjalan lebih efektif.
Heri juga menambahkan bahwa setiap pengurus organisasi harus memahami tata letak atribut peraga dan simbol negara. Menurutnya, hal ini bukan sekadar formalitas, tetapi bagian dari wujud penghormatan terhadap negara dan identitas kelembagaan.
Peserta kegiatan meliputi jajaran Dewan Penasehat, pengurus harian DPW dan DPD LDII se-Lampung, serta perwakilan PC dan PAC di daerah. Studio mini di tiap wilayah dipersiapkan agar peserta dapat mengikuti kegiatan secara aman dan nyaman.
Melalui kegiatan ini, LDII Lampung berkomitmen untuk menindaklanjuti hasil Rakornas III secara terstruktur, sehingga program kerja dapat segera diimplementasikan hingga ke tingkat daerah.

















