Bandar Lampung (25/10). Musyawarah Wilayah (Muswil) VIII Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Lampung menjadi momentum penting bagi para pemangku kepentingan di daerah untuk menyatukan visi. Bertempat di Grand Ballroom Hotel Horison, Bandar Lampung, Sabtu (25/10), acara yang mengusung tema “Penguatan SDM Berkarakter Luhur untuk Lampung Maju Menuju Indonesia Emas 2045″ ini memberikan pembekalan dengan menghadirkan beberapa pejabat tinggi sebagai pemateri .
Para pemateri tersebut menekankan bahwa untuk mencapai Indonesia Emas, diperlukan dua pilar utama yaitu tata kelola pemerintahan yang bersih dari korupsi dan fondasi sosial yang kokoh melalui toleransi serta moderasi beragama.
Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Lampung, Imam Yudha Nugraha, membuka wawasan mengenai “Peran Kejaksaan dalam Penegakan Hukum dan Pembangunan”. Ia menegaskan komitmen institusinya untuk mewujudkan “Lampung zero Corruption” sebagai syarat mutlak kemajuan.
“Kami pastikan tidak ada lagi yang main dana desa, atur-atur proyek, apalagi jatah kejati, setoran-setoran pengusaha, dan jual beli perkara. Kalau ada, tolong laporkan,” tegas Imam Yudha.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kejaksaan tidak hanya berfokus pada penindakan, tetapi juga pencegahan, seperti mengawal program makan gratis melalui pendampingan hukum. Upaya preventif juga digalakkan melalui program “Jaksa Masuk Pesantren”, sebuah kerja sama pemerintah pusat dan daerah yang salah satunya telah berjalan di Metro, untuk menanamkan integritas sejak dini.
Pembangunan karakter luhur yang dicanangkan dalam tema Muswil LDII, tidak hanya soal integritas anti-korupsi, tetapi juga keharmonisan sosial. Hal ini dikupas tuntas oleh Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Lampung, Senen Mustakim.
Senen secara terbuka mengapresiasi LDII yang dinilainya telah mempraktikkan toleransi secara nyata, mematahkan stigma yang mungkin ada di masyarakat.
“Kita kaget, ternyata LDII yang di luar dikenal ekstrem, justru merupakan organisasi yang sangat toleransi. Ini bisa kita lihat dari aksi nyata mereka yang tidak membeda-bedakan suku, ras, dan agama. Semua dirangkul, bahkan ketika seremoni pun semua diundang,” ungkapnya.
Ia mengingatkan, Indonesia yang kaya akan agama dan aliran kepercayaan hanya bisa kuat jika bersatu. “Tanpa kesatuan dan persatuan , Indonesia akan hancur, oleh karena itu kita harus toleransi dan saling menghargai,” pesan Senen.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Lampung, Ridhwan Hawari, mengajak masyarakat untuk aktif menggalakkan toleransi, namun tetap dalam koridor yang tepat.
“Mari kita galakkan toleransi, tapi jangan tasyabbuh yaitu meniru-niru secara berlebihan,” ujarnya, menekankan pentingnya menjaga identitas keyakinan masing-masing.
Ridhwan memaparkan bahwa kehidupan berbangsa di Indonesia harus berpegang teguh pada tiga landasan utama yang selaras dengan moderasi beragama. Pertama, urusan agama yang berlandaskan Sila Pertama Pancasila, menjamin kebebasan beribadah. Kedua, urusan sosial-budaya yang berprinsip Bhinneka Tunggal Ika dan “Di Mana Bumi Dipijak, Di Situ Langit Dijunjung” untuk merajut persatuan. Ketiga, urusan hukum dan aturan, di mana semua warga negara harus patuh secara maksimal.
Rangkaian pembekalan dari para pemateri ini memberikan pesan utuh bahwa penguatan SDM berkarakter luhur untuk Lampung Maju dan Indonesia Emas 2045 adalah sebuah kerja kolektif yang menuntut sinergi antara penegakan hukum yang bersih, toleransi sosial yang tulus, dan pemahaman agama yang moderat.

















