Oleh : Hasri Aghnia Salsabila, S.Ked
Anak tumbuh sehat dan aktif adalah dambaan setiap orang tua. Salah satu hal yang menjadi indikator penting dalam pertumbuhan anak adalah status gizi. Status gizi merupakan ukuran keberhasilan pemenuhan nutrisi pada anak yang diindikasikan dengan berat badan dan tinggi badan anak. Permasalahan gizi yang kini sedang ramai dibicarakan ialah Stunting. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi tingkat kejadian stunting di Indonesia mencapai angka 30,8 persen dan pada Provinsi Lampung didapatkan tingkat kejadian 25,7% dengan Kabupaten Lampung Utara sebagai Kabupaten yang memiliki tingkat prevalensi tertinggi. Lalu, apakah yang dimaksud Stunting?
Stunting atau yang lebih kita kenal dengan perawakan pendek (shortness) adalah ketika tinggi badan (TB) anak tidak sesuai dengan umurnya, penentuan stunting dilakukan dengan menghitung skor Z-indeks Tinggi Badan menurut Umur (TB/U). Seseorang dikatakan stunting bila skor Z-indeks TB/U- nya di bawah -2 SD (standar deviasi). Balita pendek (stunted) dan sangat pendek (severely stunted) adalah balita dengan panjang badan (PB/U) atau tinggi badan (TB/U) menurut umurnya dibandingkan dengan standar baku who-mgrs (multicentre growth reference study).
Dampak buruk jika anak mengalami stunting
- Jangka pendek adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik, dan gangguan metabolisme dalam tubuh.
- Dalam jangka panjang akibat buruk yang dapat ditimbulkan adalah menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar, menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, dan resiko tinggi untuk munculnya penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, stroke, dan disabilitas pada usia tua
Berikut 7 langkah tepat mencegah stunting pada anak :
- Pemenuhan kebutuhan zat gizi bagi ibu hamil, Ibu hamil harus mendapatkan makanan yang cukup gizi, suplementasi zat gizi (tablet zat besi atau Fe), Asam folat, dan terpantau kesehatannya. Kebutuhan ibu hamil minimal mengkonsumsi 90 tablet zat besi selama masa kehamilan.
- ASI eksklusif sampai umur 6 bulan dan setelah umur 6 bulan diberi makanan pendamping ASI (MPASI) yang cukup jumlah dan kualitasnya.
- Memantau pertumbuhan balita di posyandu merupakan upaya yang sangat strategis untuk mendeteksi dini terjadinya gangguan pertumbuhan.
- Meningkatkan akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi, serta menjaga keber- sihan lingkungan.
- Persalinan dengan dokter atau bidan yang ahli
- Pemberian Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
- Pemberian imunisasi dasar lengkap dan vitamin A.

















