Jakarta (7/6). Ibadah kurban yang dilaksanakan setiap 10 Zulhijah bukan hanya menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, namun juga sarat dengan nilai pendidikan dan keteladanan, terutama dalam membentuk karakter generasi muda. Hal ini disampaikan Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso, dalam menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 H yang jatuh pada 6 Juni 2026.
Menurutnya, ibadah kurban merupakan amal yang paling dicintai Allah pada hari-hari tersebut. Ia mencerminkan ketakwaan individu sekaligus kesalehan sosial. Lebih dari itu, kurban mengajarkan keteladanan dari Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS—dua tokoh penting yang menjadi panutan dalam membentuk generasi yang bertakwa dan tangguh.
“Nabi Ibrahim mendidik anak-anaknya, termasuk Nabi Ismail, agar senantiasa mengutamakan perintah Allah di atas kepentingan pribadi atau duniawi,” ujar KH Chriswanto.
Ia menambahkan, pola pendidikan yang diterapkan Nabi Ibrahim berbasis tauhid, pemahaman agama yang kuat, dan akhlakul karimah. Hasilnya, Ismail tumbuh menjadi sosok yang saleh sejak usia dini. “Puncaknya adalah saat Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih Ismail. Peristiwa itu menjadi tonggak sejarah ibadah kurban yang kita kenal hingga hari ini,” jelasnya.
Meski Nabi Ibrahim tidak selalu bersama Ismail, ia tetap membangun komunikasi yang intens dan penuh makna. Dengan dukungan Siti Hajar, keduanya mampu menciptakan pola asuh yang efektif, menjadikan Ismail anak yang patuh dan bertakwa.
“Ketundukan Ismail kepada kedua orangtuanya menjadikannya ringan dalam menjalankan perintah Allah,” lanjutnya.
KH Chriswanto menekankan bahwa pola asuh berbasis nilai-nilai agama harus menjadi pedoman dalam membesarkan anak. Pola ini terbukti mampu membentuk pribadi yang berintegritas dan beretos kerja tinggi. Ia mencontohkan sejumlah tokoh bangsa seperti Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, Bung Hatta, hingga Buya Hamka—tokoh-tokoh yang ditempa oleh pendidikan Islam yang kuat.
“Mereka menjadi teladan karena dibesarkan dalam lingkungan yang menanamkan nilai-nilai keislaman sejak dini, dan pengabdian mereka kepada bangsa masih dikenang hingga saat ini,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa memahami makna kurban dari keteladanan Nabi Ibrahim dapat menjadi refleksi bagi orangtua masa kini, terutama dalam menghadapi tantangan zaman yang cenderung liberal. “Anak-anak yang tumbuh tanpa batasan cenderung tidak memahami norma sosial maupun agama. Hal ini bisa berdampak saat mereka kelak menjadi pemimpin,” ujarnya.
Lebih lanjut, KH Chriswanto mengingatkan bahwa pemimpin yang tidak memiliki ketakwaan dikhawatirkan tidak takut akan pertanggungjawaban amal kelak di akhirat. “Kepemimpinan tanpa nilai agama rentan mengabaikan kepentingan bangsa dan negara,” katanya.
Menutup pernyataannya, KH Chriswanto menyampaikan data perkembangan kurban oleh warga LDII. Pada tahun 2022 tercatat 42.646 hewan kurban, meningkat menjadi 47.341 pada 2023, dan 50.460 ekor pada 2024.
“Untuk tahun ini, LDII telah menyiapkan lebih dari 3.000 titik pelaksanaan Salat Idul Adha di seluruh Indonesia. Per 6 Juni 2025 pukul 15.00 WIB, data sementara mencatat sebanyak 34.302 hewan kurban, yang terdiri dari 18.215 ekor sapi, 20 kerbau, dan 16.067 kambing,” pungkasnya.

















