Natar, (10/7). Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung yang diwakili oleh Kepala Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam, Drs. H. Karwito, M.M., secara resmi membuka kegiatan Perkemahan Akhir Tahun Ajaran Cinta Alam Indonesia (Permata CAI) ke-46 tahun 2025 di Kompleks Pondok Pesantren Nurul Huda, Natar, Lampung Selatan, Selasa (8/7).
Dalam arahannya, Karwito menegaskan pentingnya menanamkan nilai-nilai moderasi beragama kepada generasi muda sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan beragama yang damai dan harmonis. “Generasi masa depan harus menjadi generasi yang toleran, menghargai perbedaan, dan mampu menjaga kedamaian. Pemahaman yang baik tentang moderasi beragama akan menjauhkan remaja dari ekstremisme dan radikalisme,” tegasnya.
Permata CAI ke-46 mengusung tema “Membangun Kepedulian, Menjaga Kelestarian”, dan diikuti oleh lebih dari 100 peserta dari kalangan pemuda LDII yang berasal dari Kota Bandar Lampung, Kabupaten Lampung Selatan, dan Kabupaten Pesawaran.
Karwito juga menjelaskan empat indikator utama keberhasilan moderasi beragama: komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan penerimaan terhadap budaya lokal. Ia menekankan bahwa keempat indikator ini harus terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari untuk menciptakan masyarakat yang inklusif dan damai.
“Saudara-saudara berkumpul di sini dalam semangat cinta Tanah Air. Keberagaman adalah anugerah yang patut kita syukuri—dari suku, bahasa, adat istiadat hingga kekayaan alam,” ujar Karwito. Ia bahkan membagikan kisah inspiratif tentang momen penuh haru saat menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama warga Indonesia di luar negeri, yang mencerminkan kuatnya rasa nasionalisme.
Dalam hal toleransi, Karwito mengajak peserta untuk memahami dan menerima perbedaan di tengah masyarakat sebagai bagian dari kehidupan berbangsa. “Jadilah generasi yang mampu mengerti dan menerima keberagaman. Itu adalah wujud dari jiwa toleran,” imbuhnya.
Ia juga menekankan pentingnya menolak segala bentuk kekerasan dalam menyampaikan pendapat dan menyelesaikan konflik. “Agama harus bisa berjalan berdampingan dengan budaya dan tradisi, selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran agama itu sendiri,” jelasnya.
Senada dengan Karwito, Ketua DPW LDII Provinsi Lampung, dr. H. Aditya, M.Biomed., dalam sambutannya menegaskan pentingnya penguatan 8 bidang pengabdian LDII untuk bangsa, dengan wawasan kebangsaan sebagai yang utama. “Semangat ini sejalan dengan nilai-nilai moderasi beragama yang menjadi fokus pemerintah,” ujarnya.
Ia juga berharap kegiatan Permata CAI menjadi media untuk menanamkan cinta Tanah Air dan kepedulian terhadap lingkungan. “LDII fokus pada ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan. Lewat Permata CAI ini, kita ingin mencetak kader muda yang peduli pada kelestarian alam dan siap menjaga bumi pertiwi,” tuturnya.
Ketua panitia pelaksana, Virgiawan Bayu A., menambahkan bahwa Permata CAI tahun ini diisi dengan berbagai pembekalan, antara lain materi tentang kebangsaan, hukum, kepemudaan, dan kewirausahaan. Peserta juga dibekali dengan nilai-nilai karakter luhur bangsa, yakni 29 karakter luhur yang menjadi pedoman generasi muda LDII dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan semangat kebersamaan dan cinta Tanah Air, kegiatan Permata CAI 2025 menjadi momen strategis dalam membentuk generasi muda yang tangguh, moderat, dan peduli terhadap bangsa serta lingkungan.

















