Yukum Jaya (21/3). Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Lampung, KH. M. Bahruddin mengingatkan pentingnya menyeimbangkan antara kesalehan individual yakni kesalehan spiritual kepada sang pencipta, Allah SWT dengan kesalehan sosial, yakni kepedulian kepada sesama. Hal ini disampaikannya saat mengisi tausiyah agama pada kegiatan “Iktikaf Bersama DPW LDII Provinsi Lampung” di Masjid Tawakal, Yukum Jaya, Lampung Tengah, Lampung pada Kamis (20/3) malam.
Guru Besar Bidang Ilmu Sejarah Peradaban Islam itu menjelaskan adanya sebuah penelitian tingkat Internasional termasuk di Indonesia mengenai dua kesalehan tersebut. “Sampai hari ini, belum ada korelasi atau kaitan yang erat antara kesalehan piritual dengan kesalehan sosial. kesalehan individual kepada sang khalik dengan kesalehan terhadap sesama. Sederhananya, orang yang rajin ibadah belum tentu baik dengan sesama,” tuturnya.
“Indikasinya banyak, misal sering kita jumapai seseorang yang rajin ke tempat ibadah, tapi korupsi rajin juga. Banyak cerita, katanya pak haji, rajin ibadah, kok tertangkap korupsi, Katanya rajin iktikaf, pas dagang kok mengurangi timbangan,” tambahnya mencontohkan adanya ketidakseimbangan antara kesalehan spiritual dan sosial dalam diri seseorang.
“Disatu isi seseorang mungkin takut dosa, takut neraka jika tidak mengerjakan salat. Namun disisi lain masih sering mencuri, korupsi, dan mengambil hak orang lain tidak takut. Itu yang namanya sudah saleh secara spiritual, tetapi tidak dibarengi dengan kesalehan sosial,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Radin Intan Lampung itu mengungkapkan perlunya menyeimbangkan antara kesalehan individual secara spiritual kepada sang pencipta, juga saleh secara sosial. “Banyak yang sudah dicontohkan LDII, misalnya tebar daging qurban, berbagi takjil, bazar pakaian gratis, santunan anak yatim dan dhuafa, pembagian tali asih kepada guru ngaji, peduli posko mudik yang merupakan bentuk saleh secara sosial,” ucap KH. Bahruddin.
Lebih lanjut Ia menyontohkan keslehan sosial dalam bentuk lain, seperti sedekah untuk keperluan organisasi dalam membina umat. “LDII bisa menjadi inspirasi dan referensi bagi ormas keagamaan lainnya yang ingin menyeimbangkan dan menyelaraskan antara kesalehan individual dan kesalehan sosial,” pujinya.
“Islam mengajarkan kita tidak boleh bakhil atau pelit. orang pelit itu jauh dari Allah SWT. Boleh dicoba, pelan pelan anda pelit, lama-lama ibadah yang lain juga malas, sehingga jauh dari Allah. Dan akan mendekatkan jalan ke neraka,” Tutupnya.
KH. M. Bahruddin berharap, semua jamaah yang hadir Iktikaf dan umat Islam umumnya memiliki keselarasan antara saleh secara individual, juga saleh secara sosial.

















