Bandar Lampung (22/6). Sebanyak 250 guru TPA/TPQ dari berbagai wilayah di Kota Bandar Lampung mengikuti kegiatan Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru TPA, yang diselenggarakan oleh DPD LDII Kota Bandar Lampung pada Sabtu (21/6) di Masjid Hisbullah, Labuhan Dalam. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pengajaran Al-Qur’an melalui penguatan kompetensi guru secara menyeluruh.
Kegiatan dibuka oleh Dewan Penasihat DPD LDII Kota Bandar Lampung, dr. H. Bambang E. Subekti, SpAn., KNA., yang juga menjabat Wakil Ketua DPW LDII Provinsi Lampung. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi anak-anak TPA/TPQ. “Guru bukan sekadar pengajar, tetapi juga pendidik yang harus mampu menjadi panutan serta mampu mengelola pembelajaran secara efektif dan holistik,” ujarnya.
Bambang menguraikan empat kompetensi utama yang wajib dimiliki oleh guru TPA/TPQ, yakni kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Menurutnya, kompetensi ini menjadi fondasi penting untuk mewujudkan generasi penerus yang profesional religius dan berkarakter luhur. Ia juga mengingatkan pentingnya pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, dengan pemahaman mendalam tentang karakteristik anak, teori belajar, hingga teknik komunikasi dan penilaian yang tepat.
Tak hanya soal teknik mengajar, karakter guru juga menjadi perhatian. “Guru harus menjadi teladan, memiliki kepribadian baik, dan mampu menjalin komunikasi yang efektif dengan siswa, orang tua, dan masyarakat,” tambahnya. Ia menekankan bahwa profesionalisme guru sangat menentukan keberhasilan pembelajaran. Guru harus menguasai materi secara mendalam dan terus mengembangkan diri secara keilmuan.
Sementara itu, narasumber pelatihan, H. Karjono, M.Pd., turut memperkaya wawasan peserta dengan materi tentang strategi pembelajaran yang menyenangkan dan relevan dengan dunia anak. Ia menekankan pentingnya metode yang variatif dan pendekatan emosional dalam mengajar. “Pembelajaran yang menyenangkan dapat membangun kedekatan dan memudahkan anak dalam memahami materi. Guru harus kreatif memilih metode seperti cerita, lagu, permainan edukatif, serta menggunakan media visual seperti gambar, video, dan alat peraga,” paparnya.
Karjono juga mengingatkan bahwa pembelajaran yang baik harus disertai evaluasi. Menurutnya, evaluasi di TPA/TPQ tidak harus rumit, tetapi tetap harus dilakukan secara konsisten untuk mengukur ketercapaian materi. “Bisa dilakukan dengan observasi, pemberian reward, penilaian harian, atau refleksi pembelajaran,” jelasnya.
Pelatihan ini mendapat sambutan positif dari para peserta yang berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan sebagai upaya meningkatkan mutu pendidikan di lingkungan TPA/TPQ LDII. Diharapkan, guru-guru TPA/TPQ dapat mengimplementasikan hasil pelatihan dalam proses belajar mengajar, demi melahirkan generasi Qur’ani yang unggul dan berakhlak mulia.

















