Bandar Lampung (2/12). Menyikapi dinamika sosial dan tantangan rumah tangga yang kian kompleks, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kota Bandar Lampung mengambil langkah preventif dengan menggelar “Pengajian Sarimbit”. Kegiatan yang berlangsung di Masjid Hizbullah pada Minggu (30/11) ini dihadiri oleh 90 pasangan suami istri (pasutri) dari berbagai rentang usia pernikahan.
Mengusung tema besar “Menuju Surga Bersamamu, Mengkaji Ulang Esensi Pernikahan”, forum ini difokuskan sebagai wadah pembinaan mental spiritual sekaligus penyegaran kembali komitmen pernikahan untuk mencegah keretakan dalam rumah tangga.
Pemateri utama, Moch Tarmin Abdullah, dalam pemaparannya menjelaskan filosofi “Sarimbit”. Menurutnya, istilah ini bukan sekadar keserasian busana, melainkan simbol keselarasan hati, visi, dan misi antara suami dan istri.
“Tujuan utama pengajian ini adalah menyamakan frekuensi agar tercipta keluarga yang harmonis dan romantis. Ketenangan rumah tangga atau sakinah hanya bisa dicapai jika suami dan istri saling berlomba memenuhi kewajibannya, bukan saling menuntut hak,” tutur Moch Tarmin.
Secara spesifik, Moch Tarmin menyoroti tiga faktor utama yang menjadi penyumbang tertinggi angka perceraian saat ini, yaitu perselisihan yang terus-menerus, himpitan masalah ekonomi, dan tindakan meninggalkan pasangan (pengabaian).
“Ketiga hal ini adalah ‘kerikil tajam’ dalam pernikahan. Pasutri harus memiliki ilmu dan kesabaran ekstra untuk menghindarinya,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua DPD LDII Bandar Lampung, H. Yaumil, menjelaskan bahwa mengkaji ulang esensi pernikahan merupakan bekal vital untuk mencapai tujuan akhir kehidupan berumah tangga, yakni surga.
“Tujuan akhir sebuah pernikahan adalah mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah. Kuncinya terletak pada kebesaran hati untuk saling memahami, serta menerima kelebihan dan kekurangan pasangan masing-masing secara utuh,” tegas Yaumil.
Yaumil juga memberikan penekanan khusus pada aspek kesiapan mental. Menurutnya, pernikahan adalah ibadah dengan durasi terpanjang yang membutuhkan stamina emosional yang kuat.
“Menikah adalah ibadah seumur hidup. Maka, mentalitas adalah pondasi utamanya. Pasangan harus siap bahwa di depan sana akan ada dinamika dan permasalahan. Tanpa mental yang kuat dan bekal agama yang mumpuni, akan sulit untuk tetap istiqomah menerima pasangan kita dalam segala kondisinya,” pungkas Yaumil
Antusiasme peserta terlihat dari respons positif yang diberikan. Bambang Eko Subekti, salah satu peserta yang hadir bersama sang istri Yuni Kusuma Hartatik, mengapresiasi inisiatif LDII ini. Ia berharap program edukasi keluarga ini dapat dilakukan secara berkelanjutan dengan segmentasi yang lebih tajam.
“Acara ini sangat bermanfaat, ditambah dengan materi yang disampaikan juga relevan dengan realitas saat ini. Ke depan, kami berharap akan ada sesi khusus yang menyasar pasangan muda dengan usia pernikahan di bawah lima tahun. Masa-masa awal tersebut adalah fase paling rawan, sehingga mereka butuh bimbingan intensif agar pondasi rumah tangganya kokoh,” ungkap Bambang.
Senada dengan sang suami, Yuni turut menekankan pentingnya landasan agama dalam berumah tangga. “Pesan saya, jadikan agama sebagai sandaran utama dan panduan dalam menunaikan hak serta kewajiban. Insya Allah masalah apapun bisa dilewati,” tutupnya.



















