Bandar Lampung (4/1). Suasana hangat dan penuh keakraban menyelimuti pertemuan dua intelektual Muslim kenamaan, Dr. Ahmad Ali MD., M.A. dan Prof. Dr. H. Yusuf Baihaqi, Lc., M.A., yang berlangsung pada Jumat (2/1) di Bandar Lampung. Keduanya merupakan doktor di bidang ilmu syariah yang dikenal aktif mengkaji isu-isu keislaman dan kebangsaan.
Pertemuan yang awalnya berlangsung secara santai dan sederhana tersebut berkembang menjadi diskusi intelektual yang mendalam dan sarat makna. Berbagai isu strategis dibahas, mulai dari nasionalisme, peran dakwah, hingga kontribusi organisasi kemasyarakatan Islam dalam menjaga keutuhan dan keharmonisan bangsa.

Dr. Ahmad Ali yang saat ini mengajar di Program Pascasarjana Universitas PTIQ Jakarta berdiskusi bersama Prof. Dr. H. Yusuf Baihaqi, Lc., M.A., Guru Besar Ilmu Tafsir pertama di UIN Raden Intan Lampung. Selain menjabat sebagai Wakil Dekan I Bidang Akademik Fakultas Syariah UIN RIL, Prof. Yusuf juga merupakan Anggota Komisi Fatwa MUI Provinsi Lampung. Diskusi tersebut turut dihadiri Dr. KH. Dwi Pramono, Lc., M.S.I., dari Departemen Pendidikan Keagamaan dan Dakwah DPP LDII.
Dalam perbincangan yang berlangsung akrab namun penuh gagasan, Dr. Ahmad Ali mengungkapkan bahwa dirinya tengah menyusun buku ketiga berjudul “Kupas Tuntas Nasionalisme dan Peran Dakwah LDII di Masyarakat.” Buku tersebut merupakan hasil riset yang mengulas kontribusi LDII dalam memperkuat nilai-nilai kebangsaan melalui pendekatan dakwah yang inklusif, produktif, dan konstruktif di tengah masyarakat.
Sebagai bentuk apresiasi dan silaturahim akademik, Dr. Ahmad Ali menyerahkan buku karyanya berjudul “Nilai-Nilai Kebajikan dalam Jamaah LDII,” yang mengupas nilai-nilai moral dan etika sosial dalam kehidupan warga LDII. Sementara itu, Prof. Yusuf Baihaqi juga memberikan kenang-kenangan berupa buku karyanya berjudul “Teori Tarābuṭ dalam Produk Hukum Al-Qur’an.”
Pertemuan ini tidak sekadar menjadi ajang temu kangen dua tokoh akademik, tetapi juga menjadi simbol sinergi lintas institusi dan pemikiran. Melalui dialog intelektual tersebut, keduanya menegaskan pentingnya memperkuat ukhuwah Islamiyah, menanamkan semangat nasionalisme, serta memperluas kontribusi dakwah Islam dalam pembangunan karakter dan peradaban bangsa.

















