Bandar Lampung (19/3). Ketua DPW LDII Provinsi Lampung, M. Aditya mengajak masyarakat untuk memaknai tradisi mudik Lebaran secara lebih bijak dan sesuai tuntunan agama. Ia menegaskan bahwa mudik bukanlah ajang untuk menunjukkan keberhasilan atau pamer kesuksesan, melainkan momentum penting untuk menyambung tali silaturahim dengan keluarga di kampung halaman.
Dalam keterangannya, ia menyampaikan bahwa fenomena pamer kesuksesan saat mudik kerap terjadi di tengah masyarakat, baik melalui penampilan, kendaraan, maupun gaya hidup. “Mudik jangan dijadikan ajang pamer kesuksesan. Hakikat mudik adalah kembali ke kampung halaman untuk menyambung famili, mempererat persaudaraan, dan saling memaafkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam ajaran Islam, menyambung silaturahim memiliki kedudukan yang sangat mulia. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Surah An-Nisa ayat 1 yang artinya, “Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan (silaturahim).” Ayat ini menjadi pengingat pentingnya menjaga hubungan keluarga sebagai bagian dari ketakwaan.
Selain itu, dalam Surah Muhammad ayat 22-23 juga dijelaskan tentang larangan memutus tali silaturahim. Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa orang-orang yang memutus hubungan kekeluargaan termasuk golongan yang mendapat laknat. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga hubungan keluarga dalam kehidupan seorang muslim.
Lebih lanjut, Ketua DPW LDII Lampung juga mengutip hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahim.” Hadits ini menegaskan bahwa silaturahim tidak hanya berdampak pada hubungan sosial, tetapi juga membawa keberkahan dalam kehidupan.
Menurutnya, mudik merupakan salah satu bentuk nyata dalam menjalankan sunnah tersebut. Ia berharap masyarakat dapat memanfaatkan momen mudik untuk memperbaiki hubungan yang sempat renggang, saling memaafkan, serta memperkuat nilai-nilai silaturahmi dan toleransi di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. Secara tidak langsung, ia juga mengingatkan agar masyarakat menghindari perilaku yang dapat menimbulkan kesenjangan sosial.
Ia menyoroti bahwa momentum mudik tahun ini berdekatan dengan perayaan Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu yang hampir bersamaan dengan Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Hal ini dinilai sebagai peluang untuk semakin memperkuat nilai toleransi antarumat beragama.
“Nilai toleransi harus terus kita wujudkan. Momentum berdekatan antara Nyepi dan Idul Fitri ini menjadi pengingat bahwa keberagaman adalah kekuatan bangsa yang harus dijaga bersama,” ujarnya.
Selain aspek spiritual dan sosial, mudik juga memiliki dampak ekonomi yang signifikan. Ia menjelaskan bahwa arus mudik mampu menggerakkan roda perekonomian di daerah, mulai dari sektor transportasi, perdagangan, hingga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). “Mudik juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat daerah. Ini menjadi berkah tersendiri jika dimanfaatkan dengan baik,” ungkapnya.
Di akhir pernyataannya, Ketua DPW LDII Lampung berharap agar tradisi mudik dapat terus dilestarikan dengan nilai-nilai positif. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan mudik sebagai sarana memperkuat persatuan, meningkatkan kepedulian sosial, serta memperkokoh nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
“Mari jadikan mudik sebagai ladang ibadah, bukan sekadar rutinitas tahunan, apalagi ajang pamer. Dengan begitu, mudik akan membawa manfaat yang luas, baik bagi diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat,” tutupnya.
















