Oleh Dewan Penasehat DPP LDII KH Edy Suparto
Hanya dalam hitungan hari, bahkan jam, kita akan meninggalkan tahun 2025 dan melangkah masuk ke tahun 2026. Momen pergantian tahun sejatinya adalah waktu yang tepat untuk menghitung pencapaian diri dan mengevaluasi perjalanan hidup agar masa depan menjadi lebih baik. Namun, pernahkah terpikir oleh kita, mengapa setiap pergantian tahun kita selalu sibuk menghitung pencapaian duniawi? Memang tidak salah mengevaluasi karier atau keuangan, tapi sudahkah kita juga mengevaluasi “saldo” amal ibadah kita?
Sebab, hidup ini sejatinya adalah tempat menanam kebaikan. Apa yang kita semai hari ini, itulah yang akan kita panen di akhirat kelak.
Meluruskan Pandangan terhadap Pergantian Tahun
Jika kita berpegang pada prinsip iman, malam pergantian tahun sebenarnya tidak berbeda dengan pergantian hari biasa. Tidak ada keharusan bagi kita untuk ikut dalam euforia countdown (hitung mundur), menyalakan kembang api, meniup terompet, atau mengadakan pesta pora semalam suntuk.
Banyak tradisi tahun baru yang berbenturan dengan nilai syariat, mulai dari hura-hura yang mubazir hingga perbuatan yang tidak masuk akal seperti berbaurnya laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Jika kita menyadari bahwa waktu terus berjalan tanpa perlu perayaan khusus, maka kita tidak akan merasa perlu untuk larut dalam tradisi-tradisi tersebut.
Tantangan Zaman: Teknologi dan Keruntuhan Moral
Zaman terus berubah, dengan lahirnya beragam teknologi yang bagus untuk kehidupan manusia namun juga selalu diikuti hal negatif bahkan berbahaya. Sebagai contoh, kelahiran internet yang disusul ponsel, yang merupakan keajaiban teknologi. Akan tetapi, ponsel dengan internet yang superkencang itu, mengubah kehidupan manusia dengan drastis: mengubah cara silaturahim, cara berbisnis, cara memesan makanan, cara bekerja, dll. Tapi efek bahayanya adalah maraknya prostitusi, penculikan hingga pemerkosaan, penipuan, perampokan, dan berbagai hal negatif yang menggunakan ponsel sebagai alat. Keajaiban teknologi yang diikuti keruntuhan moral itu sesungguhnya sudah Allah SWT dan Rasulullah SAW peringatkan:
لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ. رواه البخاري
Tidak datang satu zaman kecuali zaman sesudahnya lebih buruk daripada zaman sebelumnya. (HR. Bukhari).
Kemudahan yang ditawarkan ponsel, melupakan manusia terhadap persoalan halal dan haram, sehingga terjebak dalam pinjaman online (pinjol), judi online (judol), dan bahkan gim-gim perjudian. Ponsel juga menjebak manusia dalam pergaulan bebas yang diakhiri perzinahan, bermula ingin eksis di dunia maya, tergoda chatting dengan lawan jenis, berakhir di kamar hotel. Dimulai dari mencari-cari informasi, tergoda cerita dan tayangan porno. Berawal dari gim daring yang kemudian terbujuk judol dan pinjol.
Perubahan teknologi juga diikuti pergeseran budaya dan adat istiadat. Zaman dulu anak-anak sangat taat, takzim, dan berbakti kepada orangtuanya. Saat ini banyak anak tidak takzim dan tidak berbakti kepada orangtuanya, berani menentang orang tuanya — bahkan terjadi peristiwa anak membunuh orangtuanya. Bila dahulu seorang murid sangat patuh, hormat kepada gurunya. Sekarang, banyak murid tidak patuh, tidak hormat kepada gurunya, bahkan (terjadi) ada seorang guru dianiaya oleh muridnya sampai meninggal dunia.
Dulu, seorang guru sangat dihormati (digugu dan ditiru) menjadi panutan (uswatun hasanah) bagi murid-muridnya/santri-santrinya. Di zaman akhir ini, “Guru digugu dan ditiru” sepertinya sudah tidak sepenuhnya berlaku. Karena seorang guru yang seharusnya bisa menjadi teladan yang baik untuk anak didiknya, malah banyak yang menjadi cobaan, jadi musibah, jadi contoh yang tidak baik untuk anak-anak didiknya.
Bahkan ada (terjadi) seorang guru agama mendapat julukan “predator seksual” karena menzinai belasan santrinya sendiri sampai melahirkan. Dahulu minum khamer/minuman beralkohol dilakukan sembunyi-sembunyi. Sebaliknya, saat ini orang menjadikan minuman keras sebagai gaya hidup, dijual secara terang-terangan, lewat online, dipajang di mesin pendingin minuman sebagaimana minuman halal.
Zaman kita dulu,tidak pernah terpikir oleh kita bahwa ada orang yang suka dengan sesama jenis (gay/lesbian). Sekarang, beberapa negara telah melegalkan LGBT. Ini mengingatkan peringatan Rasulullah terkait kerusakan akhir zaman: Seorang laki-laki mendatangi laki-laki lain, seakan-akan ia seorang wanita (isteri) yang halal (gay). Seorang wanita mendatangi wanita lain, seakan-akan ia seorang suami yang halal (lesbian).
Penyebaran informasi dan propaganda LGBT melalui media sosial yang cepat dan luas, mengakibatkan para remaja dan anak di bawah umur terpapar gaya hidup LGBT. Ini sangat memprihatinkan. Karena hal ini juga sudah terjadi di kalangan kita. Na’udzubillahi mindzalik.
Ancaman lain di akhir zaman yang tak kalah mengerikan adalah narkotika. Zat terlarang ini sudah masuk ke sekolah-sekolah, kampus-kampus, pondok pesantren, kalangan artis, elit politik, penegak hukum, aparat keamanan, dokter, pilot, dan berbagai macam profesi lainnya. Narkotika sudah beredar di mana-mana dari kalangan kawulo alit sampai kalangan elit. Dari yang tinggal di perkampungan kumuh sampai perumahan elit.
Larangan Mengikuti Gaya Orang Jahiliyah (Tasyabbuh)
Perkembangan teknologi yang semakin canggih, membuat informasi mudah diakses bahkan di pelosok desa sekalipun. Informasi kesehatan, pendidikan, politik, hiburan seperti sinetron, atau film-film barat, musik. Dunia serasa dalam genggaman. Akibatnya, banyak kaum muslim saat ini, terutama generasi muda yang meniru gaya hidup dan gaya berpakaian orang nonmuslim.
Benarlah yang disebutkan dalam hadits, umat Islam selangkah demi selangkah akan mengikuti jejak nonmuslim. Perhatikan hadits-hadits dibawah ini:
Dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda,
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ ؟ فَقَالَ وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ. رواه البخاري
“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.”
Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah-Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” , beliau menjawab, “selain mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Bukhari)
Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda,
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى ؟ قَالَ : فَمَنْ . رواه مسلم
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?”* (HR. Muslim).
Bahkan secara umum kita dilarang menyerupai mereka dalam hal yang menjadi kekhususan mereka. Penyerupaan ini dikenal dengan istilah tasyabbuh.
Dari Ibnu ‘Umar, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ. رواه أبوداود
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Daud)
Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda :
لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا. رواه الترمذي
“Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami” (HR. Tirmidzi).
Sabda Rasulullah SAW di atas sudah terbukti, kita jumpai dari tahun ke tahun semakin banyak orang Islam yang tasyabbuh, seperti pada saat perayaan tahun baru menghambur-hamburkan uang dengan membakar petasan, membakar kembang api, berpesta, minum minuman keras, narkoba, bahkan seks bebas pun dilakukan tanpa merasa berdosa.
Allah Ta’ala berfirman,
وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا. إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ. الإسراء ٢٦–٢٧
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27).
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَآءَ سَبِيْلاً.الإسراء
Artinya:
“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji (dosa besar) Dan suatu jalan (perbuatan) yang sangat buruk.” (QS. Al-Isra: 32).
إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِيْ قَرْيَةٍ، فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللّٰهِ . رواه الحاكم
Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung/negeri maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri. (HR. Al-Hakim)
Hal ini jangan sampai terjadi pada generasi penerus kita, yang akan menerima tongkat estafet pelestarian. Maka dari itu perlu kita berikan perhatian khusus bagi muda-mudi kita di malam tahun baru ini agar terhindar dari segala pelanggaran dan kemaksiatan.
Hendaknya saat malam tahun baru tiba, diadakan acara ritin berupa pengajian santai yang menyenangkan, disertai makan bersama atau acara keakraban, dengan tetap memperhatikan jangan sampai ada acara yang tasyabbuh menyerupai tradisi orang jahiliyah. Ingatkan muda-mudi kita supaya selalu berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT, serta mempersungguh ibadahnya kepada Allah SWT.


















