Jakarta (16/12). Marjuki Al Jawiy, yang mewakili Ketua Umum PP Muhammadiyah, KH Haedar Nashir, menegaskan bahwa Pancasila dan nilai-nilai Islam wasathiyah merupakan satu kesatuan. Keduanya tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Hal tersebut disampaikan Marjuki, Sekretaris Lembaga Pembinaan Haji dan Umrah (LPHU) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, saat menjadi narasumber dalam Sarasehan Kebangsaan LDII bertema “Nasionalisme Berkeadaban: Merawat Pancasila, Meneguhkan Islam Wasathiyah, Membangun Indonesia Berkeadilan”. Kegiatan yang digelar secara hibrida ini berlangsung di Kantor DPP LDII, Jakarta, pada Selasa (16/12).
Dalam paparannya, Marjuki menyoroti kedekatan historis ormas Islam dengan ideologi negara. Menurutnya, napas organisasi seperti LDII sangat lekat dengan nilai-nilai luhur Pancasila.
“Sejarah LDII tidak bisa dilepaskan dari Pancasila. Konsep jamaah itu sebenarnya adalah konsep ilahiyah dan nilai-nilainya sejalan dengan Pancasila,” ujar Marjuki.
Namun, ia menilai bahwa praktik berjamaah umat Islam selama ini masih terbatas pada aspek ibadah ritual. “Salat sudah berjamaah, tapi membangun ekonomi belum berjamaah, bermuamalah juga belum berjamaah. Padahal jamaah itu ajaran Islam sekaligus selaras dengan nilai Pancasila,” katanya.
Sebagai perwakilan Muhammadiyah, Marjuki juga berbagi pengalaman organisasi dalam membangun bangsa melalui pendidikan. Menurut Marjuki, jauh sebelum Muhammadiyah berdiri, KH Ahmad Dahlan telah mendirikan sekolah modern yang mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum.
“Muhammadiyah mengawinkan konsep pesantren dan sekolah modern, sehingga lahirlah sekolah Islam yang berkembang hingga hari ini. Saat ini, Muhammadiyah memiliki sekitar 24.000 sekolah, 180 perguruan tinggi, dan 350 rumah sakit. Bangsa ini kalau mau maju, harus memperbaiki tata konsep pendidikan. Pendidikan dan agama jangan dipolitisasi,” katanya.
Marjuki bersyukur Indonesia memilih Pancasila sebagai dasar negara. “Indonesia adalah negara beragama, bukan negara agama. Negara beragama itu merangkul semua pihak dengan Pancasila sebagai dasar bernegara,” tegasnya.
Marjuki juga mengajak semua pihak untuk melihat organisasi kemasyarakatan secara objektif dan tidak terjebak pada sentimen negatif.
“Kalau kita membuka LDII, sering kali yang dilihat hanya beritanya yang negatif. Padahal berpancasila itu melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang positif,” ucapnya.
Ia kemudian menyinggung Risalah Islam Berkemajuan hasil Muktamar ke-48 Muhammadiyah di Surakarta tahun 2022. Islam berkemajuan menegaskan bahwa Islam adalah agama pembawa kemajuan dan pencerahan peradaban, melawan kejumudan dan keterbelakangan.
“Orang yang benar-benar meyakini Pancasila adalah mereka yang melawan pola pikir jumud. Banyak orang berilmu, tapi pola pikirnya masih terbelakang,” katanya. Ia juga mendorong LDII dan ormas Islam lainnya untuk terus berinovasi. “Bangun sekolah, klinik, rumah sakit. Walaupun diketawakan, lanjutkan saja. Kalau sudah banyak, orang akan melihat manfaatnya,” ujarnya.
Di akhir sesi, Marjuki menekankan bahwa Islam dan Pancasila harus diimplementasikan secara nyata dalam perilaku sehari-hari, termasuk dalam hal toleransi dan kemanusiaan.
“Rahmat itu bukan hanya untuk LDII atau umat Islam, tapi untuk seluruh alam. Dalam muamalah, menolong orang lain tidak perlu melihat agamanya,” jelasnya.
Ia menutup dengan menegaskan kembali prinsip darul ahdi wa syahadah bagi NKRI. “NKRI dengan Pancasila adalah hasil konsensus seluruh elemen bangsa. Umat Islam wajib membuktikan komitmennya dengan kerja nyata, inovasi, dan partisipasi aktif,” pungkas Marjuki.


















