Jakarta (5/12). Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso, menegaskan bahwa pangan merupakan komoditas strategis yang menyangkut kedaulatan bangsa, bukan sekadar pemenuhan kebutuhan hidup. Hal ini disampaikannya saat mengapresiasi capaian Ketua DPP LDII sekaligus Peneliti Ahli Utama BRIN, Rubiyo, yang meraih penghargaan bergengsi Indonesian Breeder Award (IBA) 2025.
KH Chriswanto mengingatkan bahwa di abad ke-21, pangan telah menjadi “senjata” dalam diplomasi global. Ketergantungan pada impor tidak hanya melemahkan ekonomi, tetapi juga posisi tawar negara.
“Mengabaikan pangan bukan sekadar meningkatkan impor, namun juga membahayakan kedaulatan bangsa. Kebijakan swasembada pangan harus didukung penuh oleh seluruh elemen bangsa,” tegas KH Chriswanto.
Ia mencontohkan bagaimana negara-negara maju di Uni Eropa dan Amerika Utara memberikan subsidi besar agar petani mereka produktif. Sebaliknya, Indonesia pernah terganjal kebijakan IMF pada 1998 yang mencabut subsidi pertanian, mematikan usaha petani kecil, dan membuat bangsa ini bergantung pada impor.
Sebagai bentuk kontribusi nyata, KH Chriswanto mengapresiasi Rubiyo yang memenangkan IBA 2025 kategori Social Impact. Penghargaan ini diberikan oleh Perhimpunan Ilmu Pemuliaan Indonesia (PERIPI) bekerja sama dengan IPB University dan PT East West Seed Indonesia (EWINDO) di Bogor, pada Rabu (19/11) lalu.
IBA sendiri merupakan penghargaan tertinggi bagi insan pemulia tanaman (breeder) atas karya yang berdampak besar terhadap kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, serta pembangunan ekonomi.
Dalam hal ini, Rubiyo berhasil mengembangkan varietas unggul kakao dan kopi yang berdampak signifikan bagi petani. “Secara teknis, kami telah mampu meningkatkan produksi kakao dari 1.000 kg menjadi 2.500 kg biji kering per hektare per tahun,” jelas Rubiyo.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, turut menekankan pentingnya peran pemulia tanaman. Menurutnya, dari 1.000 pemulia di Indonesia, hanya sekitar 250 orang yang aktif. “Mereka bekerja dalam senyap di laboratorium, namun kontribusinya dirasakan jutaan masyarakat melalui benih yang ditanam petani,” ujar Arif.
Arif menegaskan BRIN akan terus berkomitmen memperkuat lahirnya inovasi dan pemulia tanaman terbaik melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan masyarakat untuk mempercepat kemandirian benih nasional.


















