Pringsewu (15/2).Pimpinan Cabang (PC) LDII Kecamatan Banyumas, Kabupaten Pringsewu, mengikuti Dialog Keagamaan yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pringsewu di Masjid Baitul Muttaqin, Pekon Sukamulya, Minggu (15/2). Kegiatan ini bertujuan mempererat hubungan antara MUI dan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam di tingkat kecamatan.
Acara ini dihadiri langsung oleh Ketua Umum MUI Pringsewu, KH. Hambali, bersama jajaran pengurus MUI yang juga merupakan tokoh aktif dari DPD LDII Kabupaten Pringsewu, seperti H. Dian Arif Rahman (Ketua), H. Nasrul Azhar (Sekretaris), dan H. Sugimin (Bendahara).
Ketua Umum MUI Kecamatan Banyumas, H. Solehudin Wahid, melaporkan bahwa dialog diikuti oleh 62 peserta dari unsur takmir masjid serta perwakilan NU, Muhammadiyah, dan LDII dari Kecamatan Banyumas dan Pagelaran Utara.
Dalam sambutannya, KH. Hambali menjelaskan pergeseran waktu safari tahun ini ke bulan Sya’ban sebagai langkah proaktif sosialisasi fatwa sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Fokus utamanya adalah penyamaan persepsi mengenai penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah, serta tata kelola zakat produktif.
Sesi inti dialog yang dimoderatori oleh H. Muhtasor menghadirkan Ketua Komisi Fatwa Pringsewu, KH. Ahmad Rifai. Ia menekankan pentingnya kolaborasi metode hisab dan rukyat sebagai dasar Sidang Isbat pemerintah dalam menentukan awal bulan Hijriah.
Selain ibadah mahdah, Dr. Rimanto selaku Dekan Fakultas Syariah UMPRI memaparkan potensi zakat nasional yang mencapai Rp370 triliun. Melalui fatwa MUI terbaru, zakat didorong untuk pemberdayaan produktif dan beasiswa guna memutus rantai kemiskinan secara berkelanjutan.
Menanggapi kegiatan ini, Ketua PC LDII Kecamatan Banyumas, Jemiran, mengapresiasi langkah MUI yang melibatkan seluruh elemen ormas, termasuk LDII. Menurutnya, kolaborasi ini adalah bentuk nyata tanggung jawab bersama dalam membina umat.
“Kami berharap hubungan baik ini terus bertahan sebagai kontribusi nyata dalam mendukung tugas-tugas kepemimpinan (ulil amri) di daerah,” pungkas Jemiran.
Kegiatan diakhiri dengan diskusi antar pengurus yang menunjukkan bahwa perbedaan organisasi di Kecamatan Banyumas bukanlah penghalang untuk bersatu dalam menciptakan stabilitas sosial dan religius.














