Tulang Bawang (4/1). Ketua DPD LDII Kabupaten Tulang Bawang yang diwakili Bendahara H. Suyoto mengikuti upacara peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia, Sabtu (3/1), di halaman Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tulang Bawang. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan HAB Kemenag 2026 yang diselenggarakan oleh Kantor Kemenag setempat.
Upacara diikuti oleh seluruh aparatur sipil negara (ASN) Kemenag Tulang Bawang, tamu undangan, serta perwakilan organisasi kemasyarakatan keagamaan, termasuk LDII Kabupaten Tulang Bawang. Kepala Kantor Kemenag Tulang Bawang, H. A. Jalaluddin, S.Ag., M.Kom.I., bertindak sebagai pembina upacara dan membacakan amanat Menteri Agama RI.
Dalam amanatnya, pembina upacara menyampaikan pesan Menteri Agama tentang pentingnya menjaga kerukunan dan memperkuat kolaborasi antarumat beragama. “Kerukunan bukan sekadar ketiadaan konflik, tetapi energi kebangsaan yang menyatukan perbedaan menjadi kekuatan untuk memajukan Indonesia,” ujarnya.
Lebih lanjut, Menteri Agama juga mengajak seluruh jajaran Kementerian Agama untuk menengok kembali lembaran sejarah peradaban. Ia mencontohkan kejayaan Baitul Hikmah pada abad pertengahan sebagai pusat intelektual global yang menjadi sumber pencerahan dunia. Baitul Hikmah bukan sekadar perpustakaan, tetapi juga pusat riset dan penerjemahan besar yang menjawab persoalan kehidupan melalui ilmu pengetahuan.
Menghadapi tantangan zaman modern, khususnya perkembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, Menteri Agama menegaskan pentingnya peran ASN Kementerian Agama. “Jika dahulu para ulama dan cendekiawan mewarnai dunia melalui literasi dan keilmuan di pusat peradaban seperti Baitul Hikmah, maka hari ini ASN Kementerian Agama harus mampu mewarnai substansi AI dengan konten keagamaan yang otoritatif, valid, moderat, sejuk, dan mencerahkan,” paparnya.
Menanggapi amanat tersebut, Bendahara LDII Kabupaten Tulang Bawang, H. Suyoto, menyampaikan apresiasi atas pesan Menteri Agama yang dinilainya sangat relevan dengan kondisi kebangsaan dan tantangan zaman saat ini. Ia menegaskan bahwa kerukunan antarumat beragama merupakan fondasi penting dalam menjaga keutuhan bangsa.
Menurutnya, kerukunan tidak cukup dimaknai sebagai hidup berdampingan tanpa konflik, tetapi harus diwujudkan dalam kolaborasi nyata yang saling menguatkan demi kemajuan Indonesia. “Pesan Menteri Agama sangat sejalan dengan komitmen LDII dalam merawat kerukunan. Perbedaan adalah keniscayaan, dan ketika dikelola dengan sikap saling menghormati, justru menjadi kekuatan besar bagi bangsa,” ujarnya.
Ia juga menyoroti ajakan untuk meneladani sejarah peradaban Islam, seperti Baitul Hikmah, sebagai inspirasi dalam menjawab tantangan era modern. Menurutnya, sejarah tersebut membuktikan bahwa agama dan ilmu pengetahuan dapat berjalan beriringan dalam memberikan solusi bagi umat manusia.
“Tantangan kecerdasan buatan harus direspons secara bijak. LDII memandang pentingnya peran tokoh agama dan lembaga keagamaan dalam mengisi ruang digital dengan konten yang mencerahkan, moderat, dan bertanggung jawab,” jelasnya.
H. Suyoto menambahkan, LDII siap mendukung upaya Kementerian Agama dalam menghadirkan literasi keagamaan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur agama. “Sebagaimana ulama terdahulu mewarnai peradaban melalui ilmu dan literasi, hari ini kita memiliki tanggung jawab yang sama untuk memastikan kemajuan teknologi tetap berpijak pada nilai moral, etika, dan kemanusiaan,” pungkasnya.
















