Oleh: Siham Afatta
Pada awal 2026, Kementerian Lingkungan Hidup RI mengungkap data memprihatinkan: Indonesia menghasilkan sekitar 143.000 ton sampah setiap harinya. Estimasi ini didasarkan pada rata-rata setiap orang membuang 0,5 kilogram sampah per hari, di mana 17 persen di antaranya adalah sampah plastik.
Sayangnya, baru sekitar 26 persen atau 37.000 ton sampah yang berhasil dikelola setiap hari. Angka ini masih jauh dari target pengurangan 70 persen sampah plastik yang dicanangkan pada 2025 lalu. Jika tidak ada langkah nyata, seluruh Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Indonesia diproyeksikan akan penuh sebelum tahun 2028.
Krisis ini sudah di depan mata:
-
TPA Piyungan (Yogyakarta): Resmi ditutup sejak Maret 2024 karena kelebihan kapasitas hingga dua kali lipat.
-
TPA Bantar Gebang (Bekasi): Menampung sampah Jakarta hingga menjulang setinggi gedung 16 lantai (total 39 juta ton).
-
TPA Sarimukti (Jawa Barat): Menanggung beban sampah hampir 13 kali lipat dari kapasitas idealnya.
Melihat fenomena ini, LDII melalui 29 Karakter Luhur sebenarnya telah lama menanamkan nilai-nilai strategis yang menjadi jawaban siap pakai untuk mengatasi krisis lingkungan hidup.
Mujhid Muzhid dan Kemandirian
Bagaimana nilai-nilai tersebut bertransformasi menjadi tindakan nyata? Jawaban paling logis ada pada karakter mujhid muzhid (bersungguh-sungguh dan hidup hemat). Dalam konteks lingkungan, hemat bukan hanya soal uang, melainkan menolak pemborosan kemasan sekali pakai, membawa tas belanja sendiri, serta menghindari gaya hidup konsumtif yang menjadi akar krisis plastik.
Karakter ini berpasangan dengan sifat mandiri. Warga yang mandiri tidak akan tinggal diam menunggu truk sampah pemerintah datang. Mereka aktif memilah, mengolah, hingga membuat kompos mandiri dari sampah organik rumah tangganya.
Langkah ini bukan sekadar idealisme, melainkan sudah dipraktikkan di lapangan:
-
Di Tabanan, Bali: Imam Kambali sukses memanfaatkan limbah plastik masyarakat menjadi bahan bakar minyak (BBM) setara solar, minyak tanah, dan bensin.
-
Di DI Yogyakarta: DPW LDII DIY sejak 2023 meluncurkan gerakan “Kyai Peduli Sampah” untuk menggerakkan kelompok pengajian dan majelis taklim dalam mengurangi produksi sampah domestik.
Sinergi Komunitas Melalui “4 Roda Berputar”
Karakter Kerja Sama yang Baik dan 4 Roda Berputar (yang kuat membantu yang lemah, yang bisa mengajari yang belum bisa) menjadi motor penggerak lingkungan berbasis komunitas. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ketika masyarakat terlibat aktif sejak dari sumbernya (rumah tangga), beban pengelolaan sampah di hilir akan berkurang drastis.
Melalui pendekatan ini, transfer pengetahuan berjalan secara organik. Warga yang sudah paham cara memilah sampah akan mendampingi tetangganya yang belum paham.
Salah satu bukti nyatanya terjadi di Riau pada 2025 lalu. Warga LDII bersama Perbanusa, pemerintah, dan tokoh masyarakat RW 05 Kampung Proklim berhasil mengolah 20 ton sampah di Pekanbaru menjadi Petasol. Langkah ini sekaligus mendorong ekonomi sirkular melalui diversifikasi usaha alternatif bagi warga setempat.
Di sisi lain, karakter Jujur, Amanah, dan 3 Prinsip Kerja (Benar, Kurup, Janji) menjadi fondasi manajemen gerakan dari dalam. Pengelola bank sampah yang amanah tidak akan memanipulasi timbangan, dan prinsip kurup memastikan jadwal pengangkutan sampah pilahan ditepati secara disiplin.
Preservasi Lingkungan Sebagai Bagian dari Kesalehan
Karakter akhlaqul karimah, rukun, dan kompak menjadi perekat sosialnya. Akhlaqul karimah mengajarkan cara menegur tetangga yang membakar sampah secara santun tanpa konfrontasi. Sementara 5 Syarat Kerukunan—salah satunya tidak merusak diri sendiri maupun orang lain—memiliki makna pelestarian alam yang mendalam.
Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW, “Laa dharara wa laa dhirara” (tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain). Para ulama memperluas maknanya bahwa merusak lingkungan hidup yang juga merupakan makhluk ciptaan Allah adalah sebuah bentuk penganiayaan.
Pada akhirnya, karakter individu seperti alim faqih, bersyukur, dan sabar menjadi fondasi motivasi. Warga yang alim faqih memahami bahwa menjaga alam adalah bagian dari menjaga syariat Islam dan bernilai ibadah.
Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026
Pada 5 Juni 2026 ini, dunia memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia dengan tema global Inspired by Nature. For Climate. For Our Future melalui seruan #NowForClimate. Kementerian Lingkungan Hidup RI meresponsnya dengan tema nasional “Saatnya Bekerja untuk Iklim”—sebuah penegasan bahwa momentum ini adalah waktu untuk mobilisasi nyata, bukan sekadar seremonial.
Krisis sampah Indonesia berada di jantung ancaman global tersebut. Bagi warga LDII, momentum ini adalah saat yang tepat untuk menjawab krisis lingkungan melalui aktualisasi 29 Karakter Luhur: dimulai dari diri sendiri, dikerjakan bersama-sama, demi mewariskan bumi yang lestari untuk generasi penerus kelak.
*Penulis adalah Anggota Departemen Penelitian, Pengembangan, IPTEK, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup (LISDAL) DPP LDII.

















