Jakarta (3/6). Ketua Umum DPP LDII, Dody Taufiq Wijaya, menilai tantangan terbesar bangsa Indonesia saat ini bukan terletak pada lemahnya rumusan ideologi negara, melainkan pada implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi, hingga budaya yang berkembang belakangan menunjukkan masih adanya kesenjangan antara nilai luhur Pancasila dan praktik yang terjadi di tengah masyarakat.
Dody mengungkapkan, menguatnya sikap individualisme, intoleransi, penyebaran hoaks, polarisasi politik, hingga menurunnya etika di ruang publik menjadi indikator bahwa pengamalan Pancasila perlu terus diperkuat.
“Pada hakikatnya, Pancasila bukan sekadar hafalan atau simbol formal negara. Nilai-nilainya harus hadir dalam perilaku sosial, kehidupan bermasyarakat, hingga proses pengambilan kebijakan publik. Tantangan kita saat ini adalah bagaimana menjadikan Pancasila benar-benar hidup dan membumi dalam keseharian bangsa,” ujarnya.
Ia menambahkan, sila Persatuan Indonesia saat ini menghadapi tantangan serius akibat menguatnya politik identitas dan masih rendahnya literasi digital masyarakat. Sementara itu, sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia masih dihadapkan pada persoalan ketimpangan ekonomi, akses pendidikan, serta pemerataan kesejahteraan.
Untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, Dody menekankan perlunya langkah yang komprehensif dengan melibatkan seluruh elemen bangsa. Salah satunya melalui penguatan pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Pancasila sejak usia dini, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik. Lebih dari itu, pendidikan harus mampu membentuk karakter, moralitas, etika, serta semangat gotong royong sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Selain itu, LDII juga mendorong penguatan budaya dialog dan toleransi di tengah masyarakat yang majemuk. Dody menilai ruang-ruang interaksi sosial perlu terus diperluas agar masyarakat tidak mudah terpecah oleh perbedaan pandangan politik, suku, maupun agama.
“Bangsa ini dibangun di atas semangat persatuan dalam keberagaman. Karena itu, budaya saling menghormati dan dialog harus terus dirawat. Jangan sampai perbedaan justru menjadi sumber konflik,” tegasnya.
Dalam bidang ekonomi, Dody menekankan pentingnya pembangunan yang berkeadilan dan berpihak kepada masyarakat kecil. Ia mendorong pemberdayaan UMKM, penguatan ekonomi kerakyatan, serta percepatan pemerataan pembangunan hingga ke daerah-daerah.
Di sisi lain, ia menilai keteladanan para pemimpin menjadi faktor krusial dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda. Menurutnya, masyarakat akan lebih mudah mengamalkan nilai-nilai kebangsaan apabila para elite politik, tokoh masyarakat, dan pejabat publik menunjukkan integritas, kejujuran, serta kepedulian sosial dalam tindakan nyata.
“Keteladanan adalah kunci. Pancasila tidak akan efektif jika hanya disampaikan melalui slogan. Nilai-nilainya harus dicontohkan melalui tindakan nyata oleh seluruh pemimpin bangsa,” ungkapnya.
Sebagai organisasi kemasyarakatan, LDII menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam memperkuat nilai-nilai kebangsaan melalui pendidikan karakter, dakwah yang moderat, pengabdian kepada masyarakat, serta berbagai program pemberdayaan umat yang berorientasi pada persatuan, kemajuan, dan kesejahteraan bangsa.

















